Menu
A+ A A-

Keindahan Sederhana di Tengah Rawa Pening

AMBARAWA, KOMPAS.com - Bagi para pemudik dari kawasan Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya yang melewati Semarang, ada pilihan tempat istirahat yang menawarkan keindahan istimewa.  Tempat tersebut bernama kompleks objek wisata dan restoran RM Kampoeng Rawa. Kompleks yang masih relatif baru ini terletak di tepi Jalan Lingkar Ambarawa (JLA) yang juga baru diresmikan. Dari arah Yogyakarta, kompleks ini terletak di sisi kanan jalan, dan langsung mudah dikenali dengan bentuk bangunan-bangunan beratap joglo yang terletak di tengah hamparan sawah dan rawa menghijau.



Pengamatan Kompas hari Jumat (24/8/2012), tempat wisata ini memiliki pemandangan indah danau Rawa Pening dan perbukitan dan pegunungan yang mengelilingi rawa tersebut. Restoran Kampoeng Rawa dikonsep sebagai restoran terapung dalam arti sebenarnya.

Bangunan pondok-pondok tempat makan benar-benar dibangun di atas rakit yang terbuat dari drum-drum plastik bekas. Bahkan untuk menuju restoran ini, pengunjung harus menyeberang seruas rawa menggunakan rakit yang ditarik tali, seperti rakit penyeberangan sungai.

Rumah makan ini menyediakan berbagai pilihan makanan, mulai dari berbagai ikan air tawar segar dari danau Rawa Pening yang dimasak dengan beraneka bumbu, sampai masakan-masakan "standar" seperti nasi goreng, mie goreng, dsb. Udara di kawasan ini sungguh sejuk, dengan angin gunung mengalun sepoi-sepoi.

Di pondok-pondok makan lesehan, pemudik bisa istirahat meluruskan punggung sejenak sambil menikmati pemandangan dan udara sejuk. Bagi anak-anak, disediakan fasilitas becak air untuk berputar-putar rawa di sekitar kompleks restoran, dan kendaraan motor mini-ATV (all terrain vehicle) untuk menjajal trek off road kecil di bagian lain tempat wisata.

Tiket masuk lokasi ini relatif masih murah, yakni Rp 2.500/orang ditambah tarif parkir mobil Rp 5.000/mobil. Keindahan sederhana di rawa yang terkenal dengan legenda Baru Klinthing-nya ini menjadi bisa dinikmati banyak orang dengan dibangunnya JLA. Selama ini, keindahan itu seolah tersembunyi karena pengguna jalan "dipaksa" melewati keruwetan kota Ambarawa.

Selain menikmati keindahan pemandangan Rawa Pening, pengguna JLA juga bisa menyaksikan peninggalan bersejarah sisa-sisa Benteng Pendhem secara utuh. Kompleks benteng besar ini dulunya digunakan pasukan kolonial Belanda dan memiliki makna sejarah penting, tetapi selama ini seolah benar-benar "terpendam".

Pembangunan jalan lingkar seperti ini diharapkan akan makin digiatkan pemerintah di masa depan. Selain mengurangi kemacetan di jalanan dalam kota yang makin parah, jalur lingkar ini bisa membuka peluang terbukanya potensi wisata setempat.


http://regional.kompas.com/read/2012/08/24/16303372/Keindahan.Sederhana.di.Tengah.Rawa.Pening