Menu
A+ A A-

Rawapening Lestari, Nelayan pun Berseri

Objek wisata kuliner dan adventure Kampoeng Rawa di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, baru dibuka sebelum Lebaran. Jumlah pengunjungnya membeludak mencapai 2.000-an orang per hari. Hal itu terjadi saat liburan Lebaran lalu. LOKASI Kampung Rawa yang strategis di pinggir Jalur Lingkar Ambarawa (JLA), menjadikan objek wisata di kawasan Danau Rawapening itu mudah dijangkau. Selain kuliner apung, juga ada aneka permainan seperti becak air, berperahu keliling danau, dan mobil ATV.

Pariyanto (50) tampak sibuk menambatkan perahu stoom-nya siang itu. Nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Kampoeng Rawa tersebut, baru saja mengantar pengunjung menuju warung apung di tengah Rawapening. Meski suhu panas menyengat, senyum ramah Pariyanto kepada para wisatawan tetap terpancar. Warung apung tersebut memang belum dilengkapi dengan para waitres dan koki.

Namun, jika ada yang memesan tempat untuk rapat atau diskusi, pihak pengelola bisa mengirim menu masakan ikan dari dapur besar yang berada di pinggir rawa.

Warung apung di tengah danau legenda Baruklinting itu mampu memuat 300 orang. Pemandangan indah hamparan air danau yang jernih serta view barisan Gunung Merbabu, Telomoyo, Kendil, dan Kelir, mampu menghadirkan sensasi tersendiri.



”Kami membersihkan eceng gondok di sekitar Desa Bejalen dan Tambakboyo sehingga lalu lintas perahu tetap lancar dan air danau tampak bersih. Dengan adanya Kampoeng Rawa, kami semakin terpacu menjaga kelestarian danau ini,” ungkap Pariyanto, warga Tambakboyo, Ambarawa, belum lama ini.

Menurutnya, dengan objek wisata baru ini, petani dan nelayan mendapat tambahan penghasilan yang lumayan. Libur Lebaran kemarin, satu pengemudi perahu stoom bisa mengantar pengunjung hingga 15 kali, dengan mendapat upah Rp 150.000. Satu perahu stoom bisa memuat 10 orang, dengan tiket Rp 100.000. Dari setiap tiket tersebut, pengemudi perahu mendapat Rp 15.000.

”Belum lagi dari penjualan ikan karamba. Pada Lebaran kemarin, kami kehabisan stok ikan gurami, nila, dan bawal. Kami mencari sampai ke Jawa Timur sebanyak empat kuintal,” papar Pariyanto, yang juga pembudidaya ikan karamba. Ikan-ikan karamba milik nelayan dibeli dengan harga layak di warung apung Kampoeng Rawa.

Tiga Warung Apung

Ketua Paguyuban Kampoeng Rawa, Agus Sumarno mengatakan, jumlah pengunjung di objek wisata baru itu membeludak. Hari pertama Lebaran, jumlah pengunjung mencapai 1.500 orang. Hari kedua dan ketiga Lebaran tembus 2.000 pengunjung.

Menurutnya, di tempat ini direncanakan ada tiga warung apung. Saat Lebaran, menu resto di warung apung utama selalu habis terjual. Banyak pengunjung yang harus antre, menunggu pengunjung lainnya selesai makan.

”Saat ini, baru ada dua warung apung yang siap, satu di pinggir dan satu di tengah rawa dengan kapasitas 600 orang. Ada juga 15 gazebo untuk melihat matahari tenggelam. Bagi pengunjung yang hendak masuk warung apung utama di pinggir rawa, ditarik dengan gethek. Di lokasi ini, mereka yang membawa anak bisa bermain becak air atau perahu dayung,” kata Sumarno.

Ia menambahkan, para petani nelayan tersebut merupakan anggota KSP Artha Prima Ambarawa. Sejak 2004, KSP yang memiliki cabang di Jateng, DIY, dan Jabar itu telah membina ratusan petani nelayan di Bejalen dan Tambakboyo. Bulan Ramadan lalu, Paguyuban Kampoeng Rawa yang beranggotakan 12 kelompok tani nelayan di Bejalen dan Tambakboyo itu resmi dikukuhkan.

”Objek wisata Kampoeng Rawa untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Selama ini, sawah di pinggir rawa tidak menjanjikan hasil. Bisa panen setahun sekali sudah untung. Dengan adanya Kampoeng Rawa, kami semakin bersemangat melestarikan Rawapening,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya siap mengelola kambing fermentasi yang bahan pakannya dari eceng gondok. Dengan demikian, populasi eceng gondok bisa terkendali. (Rony Yuwono-64)  

http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=197116