Menu
A+ A A-

Siapkan Homestay dan Outbound

KONSEP  utama objek wisata Kampoeng Rawa di Bejalen, Ambarawa, Kabupaten Semarang, adalah pemberdayaan petani nelayan dan pelestarian alam Rawapening. Dengan adanya objek baru ini, para kelompok tani nelayan di Desa Bejalen dan Tambakboyo, diharapkan terangkat. Untuk mendukung upaya tersebut, kini pihak pengelola yang merupakan paguyuban tani nelayan Kampoeng Rawa, menyiapkan sejumlah fasilitas.



”Kami bersyukur pada libur Lebaran kemarin Kampoeng Rawa dikunjungi banyak orang dari berbagai kota. Saat ini kami menyiapkan wisata di perkampungan karamba, outbound, dan homestay di rumah penduduk. Saat ini juga sedang dibangun joglo besar yang menampung 1.000 orang,” kata Sekretaris Paguyuban Kampoeng Rawa, Koko Komarullah, kemarin.

Menurut dia, pemberdayaan usaha karamba yang selama ini dibantu KSP Artha Prima Ambarawa, akan terus ditingkatkan. Hal itu perlu dilakukan karena pada libur Lebaran kemarin stok ikan habis terjual di resto Kampoeng Rawa. Bahkan, nelayan mencari ikan gurami, nila, dan bawal ke daerah lain.

”Sebanyak 12 kelompok tani nelayan nantinya akan membuat perkampungan karamba di tengah Rawapening yang siap dikunjungi wisatawan,” katanya.

Di objek wisata yang bisa diakses melalui Jalur Lingkar Ambarawa itu, pihak Kampoeng Rawa siap membeli hasil perikanan karamba.

Jika harga ikan di pasaran Rp 9 ribu/kg, pihak Kampoeng Rawa berani membeli dengan harga Rp 14 ribu/kg.

”Pengunjung nanti bisa menyewa gazebo, pancing, dan membeli ikan hasil pancingan. Ini demi pemberdayaan petani dan nelayan. Selama ini mereka berupaya meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Koko yang juga perangkat Desa Bejalen itu.

Terkait pelestarian Rawapening, pihaknya menyiapkan kapal khusus yang akan memungut eceng gondok setiap hari. Dengan demikian, perairan danau legenda Baruklinting ini terjaga.

Objek wisata ini juga akan melengkapi dengan wisata perkampungan kambing dengan pakan fermentasi eceng gondok. Juga, perkampungan bebek peking yang memiliki nilai jual tinggi.

Resepsi Pernikahan

”Dalam waktu dekat, saya juga ikut pelatihan homestay di Jakarta yang difasilitasi KSP Artha Prima. Semoga penduduk di Desa Bejalen mendapat tambahan penghasilan dari homestay. Homestay juga akan dibuat di tengah Rawapening,” papar Koko.

Dia menambahkan, saat ini rumah apung di tengah Rawapening dengan kapasitas 300 orang, siap menerima kegiatan rapat, seminar, gathering, resepsi pernikahan, dan sebagainya. Pemandangan yang eksotis di tengah Rawapening, tentu menghadirkan sensasi tersendiri. Untuk menuju ke sana, wisatawan diantar dan dijemput dengan perahu stoom.

Ketua Umum KSP Artha Prima, Ir HM Nurzubaedi yang merupakan salah satu penggerak objek wisata ini mengatakan, keberadaan habitat burung kuntul dan belibis juga akan dilestarikan di kawasan tersebut. ”Perlu dukungan Pemkab dan ada Perda yang mengatur kelestarian habitat burung kuntul dan belibis. Ini perlu karena menjaga ekosistem Rawapening,” tegas Nurzubaedi.

Pihaknya menyatakan mendukung penuh pemberdayaan petani dan nelayan Rawapening. Koperasi yang merupakan unggulan nasional tersebut, sejak 2004 mendampingi ratusan tani nelayan menggeluti usaha karamba dan pertanian. KSP Artha Prima yang memiliki 850 karyawan dan tersebar di 30 kantor cabang di Jateng, Jabar, DIY, dan Jakarta, itu kini memiliki 140 ribu anggota yang terdiri atas UMKM serta petani nelayan.

Imam Sudarmadji, pengunjung asal Ungaran mengatakan, objek wisata tersebut prospektif. ”Saya memprediksi objek wisata ini akan terus meningkat dan banyak dikunjungi wisatawan,” katanya.

MA Sutikno, seniman Ungaran juga mengungkapkan, pemandangan di Kampoeng Rawa begitu mempesona. ”Saya sudah berpikir akan menggelar atraksi atau pagelaran kesenian di sini. Pasti sangat menarik karena didukung suasana alam yang eksotis,” tandas pria yang dikenal ahli membuat patung itu. Ya, objek wisata ini memang cukup fenomenal. Meski baru dibuka sebelum Lebaran, pada libur Lebaran lalu jumlah pengunjung membeludak 2.000 per hari. (Rony Yuwono-69)